GLOBALISASI KEBUDAYAAN


Tinjauan dari perspektif pengaruh arus globalisasi terhadap 
generasi muda

Abstrak : Globalisasi menuntut sebuah perubahan dan ditinjau dari sudut pandang yang berbeda dari perkembangan generasi muda seiring dengan lajunya arus globalisasi yang kian hari mengarah kepada tindakan yang tidak terpuji serta mengabaikan nilai luhur kebudayaan bangsa. 

Manusia merupakan satu – satunya makhluk yang dianugerahi daya untuk berpikir dan berasaskan nilai – nilai kemanusiaan yang tertanam di dalam pikirannya. Dalam perkembangannya dia melewati beberapa tahap :     
                 * Bayi
                 * Anak – anak
                 * Remaja
                 * Pemuda/i
                 * dewasa dan
                 * Orangtua
Pada tulisan ini yang akan di bahas berkaitan dengan judul tulisan diatas adalah perkembangan pada generasi muda serta akibat yang dihasilkan oleh dampak arus globalisasi. Hal lain yang menjadi adanya tulisan ini adalah maraknya aksi atau tindakan anarkis yang yang dilakukan oleh kebanyakan anak muda pada jaman ini. Generasi muda ini merasa terasing apabila masih tetap mempertahankan nilai – nilai budaya luhur serta dianggap ketinggalan jaman ketika mengikuti mengikuti aturan budaya yang merupakan warisan leluhur kita. Bukankah Negara kita memiliki warisan budaya yang luhur serta memiliki Pancasila sebagai simbol kesatuan bangsa?? Mereka menginginkan bahkan memberontak terhadap ketentuan – ketentuan tradisional atau kebiasaan – kebiasaan yang secara  tradisi teleh menunjukkan kelangsungan hidup suatu masyarakat dan kebudayaan. 
Dunia dewasa ini mengalami perubahan yang maha dasyat. Perubahan ini berkembang pada banyaknya penemuan diberbagai bidang serta memberikan pengaruh yang cepat pula terhadap kehidupan masyarakat dewasa ini. Hal ini menunjukkan bahwa pengetahuan memiliki peran yang amat penting untuk sebuah perubahan, namun perubahan ini membawa generasi muda pada hal-hal negatif, seperti : menkonsumsi narkoba, sabu-sabu dan masih banyak yang lainnya. Selain hal – hal negatif tersebut ada juga nilai positif yang kita ambil sebagai contoh perkembangan ilmu pengetahuan yang telah membawa bangsa kita sebagai Negara berkembang. Pengetahuan terus di perbaharui setiap saatnya hingga menemukan pengetahuan berbasis ICT dan multimedia (Education Based ICT). Kemajuan teknologi informasi dan multimedia ini telah merambah pada hampir semua pelosok desa di negeri ini, dimana media informasi berupa telepon genggam (phone cellular) sudah bukan lagi produk yang asing digunakan dalam kehidupan masyarakat pedesaan. Contoh yang lainnya lagi adalah mendapatkan informasi secara mudah melalui media internet. Artinya gaya hidup perkotaan sudah mengubah gaya hidup di pedesaan. Inilah contoh realitas perubahan dijaman globalisasi, dimana terjadi revolusi pengetahuan dan menuntut sikap untuk beradaptasi dengan perubahan dalam jaman globalisasi. Kemampuan beradaptasi berarti kemampuan untuk memilih atau selektif terhadap hal – hal yang positif maupun negatif pada habitat seseorang, artinya bahwa dalam perkembangannya manusia atau dalam hal ini generasi muda harus secara selektif atau mengkritisi terhadap setiap perubahan yang ada pada era global dewasa ini. 

Konsep Kebudayaan Barat dan Konsep Kebudayaan Timur
    Kebudayaan merupakan norma – norma atau kepercayaan yang telah di sepakati secara bersama dan diwariskan oleh leluhur atau nenek moyang kepada generasi seterusnya. Konsep tentang kebudayaan ini memang masih memiliki titik yang lemah karena warisan leluhur ini tidak di jalankan dengan baik pada era dewasa ini.  Membangun masyarakat yang kuat dan taat terhadap kehidupan berbudaya (kebudayaan lokal) sungguh merupakan tantangan yang berat bagi petinggi atau ketua adat disuatu daerah pada era sekarang. Hal ini ditandai dengan masuknya budaya barat (free seks, gaya hidup kawin cerai, perayaan valentine, dsb…)..Masuknya kebudayaan barat ini di Indonesia melalui media informasi yang berkembang saat ini memberikan pengaruh yang cukup besar terhadap kehidupan masyarakat. Inilah revolusi kebudayaan barat terhadap kebudayaan timur.  Generasi muda merupakan alih waris atau penerus kebudayaan dengan tetap mempertahankan nilai – nilai kemanusiaan bukan dehumanism malah terjerumus oleh pengaruh kebudayaan luar (barat). Ironis memang ketika pendidikan kita juga ikut “bermodernisasi” tetapi tidak menerapkan nilai – nilai modern (nilai berdasarkan kualitas berpikir secara baik dan benar) secara sungguh - sungguh untuk diterapkan dalam dunia pendidikan sekarang Inilah realita yang kita hadapi ketika generasi muda menganggap kebudayaan lokal sebagai sesuatu yang tradisional dan di cap ketinggalan jaman. Dimanakah peran tokoh agama dan tokoh adat dalam mengatasi hal ini?? Dalam kaitannya dengan konsep kebudayaan ini, Pendidikan Lingkungan Sosial dan Budaya (PLSBD) yang diajarkan di sekolah tidak cukup kuat untuk mengendalikan pengaruh yang ada. Apakah kita harus menolak pengaruh dari dunia barat ini? Persoalannya bukan menolak atau menerima dengan budaya tersebut, tetapi yang ditekankan adalah bagaimana generasi muda secara cermat untuk memilih hal – hal positif dan menjadi refleksi pembelajaran untuk di pelajari dan di kembangkan sejalan dengan potensi yang dimilikinya. Contoh sederhana yang positif dan di rasakan manfaatnya untuk kelancaran dunia informasi serta menjadi keuntungan dengan masuknya budaya asing ini adalah perkembangan dunia ICT (Teknologi dan Informasi), multimedia, bereksplorasi di dunia maya (cyber space) melalui media internet; contohnya : Penggunaan akun email, Face book, Twitter, dunia blogspot, website, dsb….
Ini merupakan contoh positif yang harus kita apresiasikan dan dapat kita rasakan manfaatnya dengan masuknya arus global era  dewasa ini walaupun dalam penggunaannya user atau pelaku pada media ini tidak digunakan secara baik. Kebudayaan sebagai pusat peradaban timur merupakan warisan leluhur yang sekiranya dapat menjadi kekuatan untuk menjawab tantangan global dewasa ini. Karena itu Pendidikan yang modern pada era globalisasi ini merupakan pendidikan yang bisa menyiapkan anak didiknya untuk bisa berpikir secara kritis dan cermat serta mampu mengupdate dan mengaplikasikan seluruh potensi yang dimiliki untuk digunakan. 
    

 Globalisasi pendidikan

    Pendidikan merupakan satu–satunya sarana untuk menjawab tantangan global pada era modern ini. Namun apa akibatnya  bila gaya hidup modern merasuk pendidikan kita. Sila ke-5 pancasila tentang keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia merupakan butir terakhir dalam urutan sila pada pancasila mau menegaskan bahwa  keadilan khususnya dalam bidang pendidikan harus secara merata diberikan kepada seluruh masyarakat Indonesia. Hal ini dipertegas lagi oleh kementerian pendidikan tentang hak warga Indonesia untuk mendapatkan pendidikan yang layak melalui program pendidikan 9 tahun sebagaimana diamanatkan dalam UUD 1945 atau aturan yang baru – baru ini sudah diberlakukan bahwa pada tahun 2020 setiap warga Negara Indonesia memiliki ijasah sekurang – kurangnya berijasah SMA atau sederajat. Aturan ini bertujuan agar Negara dapat meminimalisir tingkat SDM masyarakat yang semakin rendah dan ditunjukkan tingkat kriminalitas yang semakin hari mengalami peningkatan selain memperoleh hak untuk mendapatkan pendidikan. Karena Negara yang berkembang dan mau maju adalah Negara yang memiliki masyarakatnya dengan standar SDM yang tinggi. 
Hal lain yang menjadi keprihatinan kita bersama bahwa masih ada sebagian lembaga pendidikan yang menerapkan skala kuantitas sebagai hasil akhir proses pendidikan bukan pada skala kualitas (mutu) output. Proses pendidikan seperti ini kita katakan proses pendidikan untung dan rugi. Jelas sekali bahwa dalam hal ini keuntungan akan diperoleh pihak sekolah dan guru dengan mendapatkan predikat terbaik dari masyarakatnya atau stakeholder disisi lain pihak siswa/i akan rugi (walaupun mereka merasa senang dengan keputusan yang ada yaitu mendapat predikat lulus). Hal ini ditandai mereka akan memiliki tingkat analisis yang rendah serta tidak cermat memahami suatu persoalan dalam kehidupan mereka selanjutnya. Generasi seperti inikah yang kita harapkan dalam menjawab tantangan global dewasa ini!? Standarisasi yang hanya melihat kepada hasil akhir adalah suatu penerapan Tylorisme di dalam dunia pendidikan. Inilah yang dimaksud dengan proses McDonaldisasi pendidikan. Kalau kita kaitkan dunia pendidikan dengan dunia bisnis bahwa pihak produsen selaku pemilik produk dengan menjual (produk palsu) yang dipolesi perhiasan atau asesoris kepada konsumen akan mendapatkan keuntungan tetapi pembeli sebagai konsumen akan rugi karena produk yang dia beli bukan produk yang asli tetapi produk tiruan. Manajemen bisnis untung rugi. Inilah realita pendidikan dewasa ini. Sangat ironis!!!.
    Peran pendidik (guru) untuk membentuk akhlak manusia (siswa/i) merupakan tanggung jawab moral yang harus dijalankan dengan baik dan diberikan secara merata kepada anak didiknya. Dalam prosesnya peran pendidik pada era global dewasa ini tidak dijalankan secara sungguh - sungguh atas tugas dan tanggungjawab yang diembannya. Keberhasilan seorang guru dalam mengubah pola pikir anak manusia (siswa/i) tidak  ditentukan berdasarkan jumlah jam mengajar atau keseringannya dengan anak didiknya tetapi lebih kepada bagaimana dia sebagai guru yang professional menjalankan fungsi dan tugasnya itu dengan mendapat umpan balik (feedback) dari siswa/i nya sebagai hasil selama proses belajar mengajar berlangsung. Umpan balik ini ditunjukkan oleh mereka ketika membahas suatu persoalan serta dikritisi dalam suatu diskusi serta mendapatkan kesimpulan dari hasil diskusi tersebut yang pada akhirnya mereka dapat memahami inti dari persoalan yang ada. Apabila hal tersebut terus menerus dilakukan maka suatu saat mereka akan menjadi agen perubahan (agent of change) dalam mengkritisi tuntutan global yang semakin hari mengalami perubahan yang maha dasyat. Inilah inti dari tujuan pendidikan dalam menghadapi era globalisasi. 
Pengetahuan kehidupan merupakan pengetahuan yang memiliki makna dan bisa di manfaatkan dalam kehidupan masyarakat. Bukan pengetahuan yang memiliki persyaratan untuk bisa memenuhi ketuntasan belajar pada perguruan tinggi yang pada akhirnya memiliki gelar tapi tidak memiliki makna. Apa artinya suatu gelar atau title tapi tidak bisa dibuktikan dalam kehidupan bermasyarakat?
Dalam kaitannya dengan proses pendidikan untuk menjawab tantangan global ini yang harus diperhatikan pula bahwa kualitas manusia modern dengan memiliki pemikiran untuk maju dan bersikap kritislah yang diharapkan bangsa ini. Peran pendidikan yang modern menuntut para pendidik yang profesional untuk bisa bersikap kritis terhadap setiap perubahan dengan tidak menjadi korban modernitas dalam arus globaliasi. 


Title : GLOBALISASI KEBUDAYAAN
Description : Tinjauan dari perspektif pengaruh arus globalisasi terhadap  generasi muda Abstrak : Globali...

1 Response to "GLOBALISASI KEBUDAYAAN"

Poskan Komentar